Showing posts with label Maluku. Show all posts
Showing posts with label Maluku. Show all posts

10 July 2021

PUNCAK HAWALA KATAPANG SERAM BAGIAN BARAT

Halo cuy, ketemu lagi di weekend ini. Kali ini, aku mau ngajak kamu mini trekking ke Puncak Hawala - Katapang, Seram Bagian Barat. Kebetulan aku Trekking bareng sepupu aku. Selangkapnya bisa kamu lihat di video di bawah ini:


Follow My Social Media
- Twitter
- Instagram
- Wattpad
- YouTube
- Tiktok
- Blog

04 July 2021

Gunung Tinggi Teletubbies Seram Bagian Barat

Hai ketemu lagi di blog aku. Kali ini aku ngajak kamu ke Gunung Tinggi, biasanya disebut juga Bukit (Gunung) Teletubbies, karena sekilas ilalang yang tumbuh di gunung ini mirip dengan setting kartun Teletubbies. Lokasinya berada di Pulau Seram—Kabupaten Seram Bagian Barat.

Selengkapnya bisa tonton lewat video di bawah ini:



Follow My Social Media
- Twitter
- Instagram
- Wattpad
- YouTube
- Tiktok
- Blog

18 June 2021

LARIKE - THE LITTLE INDIA

Dari kemarin-kemarin aku pengin ke Larike, akhirnya kemarin kesampaian juga ke sana. Ternyata kalo dari udara, daerah sekitar Larike Atas mirip miniatur India.  Selengkapnya bisa kamu intip dalam video di bawah ini.


Follow My Social Media
- Twitter
- Instagram
- Wattpad
- YouTube
- Tiktok
- Blog


01 March 2018

Semacam (Mini) #Traveling: Gunung Kayu Satu

Sebenarnya ke Gunung Kayu Satu ini gak sengaja. Awalnya sepupu ngajakin ke sana, karena penasaran dengan pembukaan jalan yang dilakukan kaki Gunung Kayu Satu. Maka di hari sabtu lalu kemarin aku bareng sepupu hiking berdua setelah subuh.
Tahukah kamu? Awalnya Gunung Kayu Satu ini bernama Gunung Kayu Tiga. Penamaan ini karena dulu di puncaknya berdiri tiga pohon besar yang sejajar. Namun saat ini kayu-nya tinggal satu. Bahkan tinggal batangnya saja. Dua lainnya sudah tumbang dimakan usia.
Lokasi

Fyi temans, lokasi Gunung Kayu Satu ini dekat banget dengan rumah aku. Setiap hari aku melihatnya. Tapi seumur-umur baru sekarang aku naik nih gunung. Jadi buat kamu yang bertanya-tanya di mana lokasi Gunung ini sebenarnya? Lokasinya di Desa Batu Merah (IAIN Ambon), Kecamatan Sirimau, Ambon, Maluku.
Akses
Untuk ke Gunung Kayu Satu dari pusat kota Ambon, kamu tinggal bergerak ke arah Timur desa Batu Merah ke kawasan IAIN Ambon. Kamu bisa naik angkot tujuan IAIN.


View
Sebenarnya Gunung ini tidak terlalu tinggi. Untuk ketinggian aku gak tahu pasti sih berapa. Tapi mayoritas Gunung ini memiliki pohon-pohon yang tidak terlalu besar. Masih ada ilalang-ilalangnya. Jalur ke puncak Gunung ini sudah kebentuk. Mungkin karena sering dijadikan spot camping. Kamu bisa lewat jalur kiri untuk mencapai puncaknya.
Malam minggu menjadi hari paling rame di puncak Kayu Satu, karena biasanya anak-anak pecinta alam sering menghabiskan waktu di sini. Mereka naik ke Gunung ketika sabtu sore. Kalo malam pergantian tahun baru lebih rame lagi.
View dari atas kece badai. Kamu bisa melihat kota Ambon sepenuhnya, birunya teluk Ambon, dan Jembatan Merah Putih secara padu. Jika selama ini kita tahu Gunung Salahutu—Gunung tertinggi di Pulau Ambon menjadi spot favorit melihat Kota Ambon seluruhnya, maka Gunung Kayu Satu juga menawarkan hal demikian. Bedanya kalo Gunung Salahutu, jalur trekking-nya susah dan sering jadi langganan pendaki profesional, sementara Gunung Kayu Satu orang amatir pun bisa naik karena sudah ada jalur trekking-nya. Dan satu lagi, capeknya gak secapek naik Salahutu.
Eh di sini pertengahan jalur pendakian sudah disediakan air leding, jadi kamu yang cering cepat haus, tak perlu khawatir.
Saran
Ini saran yang sering kita dengar dari para pendaki, tolong jangan nyampah di jalur trekking, maupun puncaknya. Soalnya kemarin waktu ke sini, aku mendapati banyak sampah plastik. Dari kantong plastik, makanan ringan, botol mineral. Makanya kemarin sempat jengkel, Gunung lumayan bagus ini dirusakin oleh orang-orang yang gak cinta lingkungan.
Biaya & Waktu Tempuh
Untuk menjangkau Gunung Kayu Satu dari kota Ambon cuman sekali naik kendaraan umum. Bayarnya gak sampe Rp. 5.000. yang punya kendaraan malah lebih enak lagi. Waktu tempuhnya dari pusat kota hanya 30 menit kendaraan umum. Motor dan Mobil pribadi bisa 15 menit.
 
More Info
Di puncak Gunung sudah ada sinyal. Sayangnya untuk meng-update atau terkoneksi dengan internet hanya bisa kamu lakukan ketika turun kembali atau berada di kaki gunung.


Buat kamu yang berada di Kota Ambon, Gunung Kayu Satu seharusnya bisa jadi agenda menarik untuk rekreasi.

17 February 2018

#Traveling Gunung Malintang Piru


Lama rasanya gak posting soal traveling. Padahal kemarin-kemarin sempat ke Jogja, Bandung dan Jakarta. Tapi kali ini aku gak nge-post traveling ke tiga kota besar yang menurut aku menguras kantong itu (nangis di pojokan).  Yang mau aku post adalah salah satu tempat yang menurut aku lumayan enak jadi tujuan traveler, Gunung Malintang Piru.
Sebenarnya awalnya ke sini hanya untuk menghadiri nikahan teman di daerah Taman Jaya. Kebetulan karena akses ke Taman Jaya melewati gunung ini makanya sekalian dolan.
Lokasi

Gunung Malintang Piru berada di Pulau Seram. Ya sesuai namanya gunung ini memang dekat daerah Piru, ibu kota dari Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku. Gunung ini berada tak jauh daru Gedung DPRD Seram Bagian Barat dan juga Gedung Siwalima.
 

Akses
Untuk mencapai daerah ini dari kota Ambon, kamu harus menyebrang ke Pulau Seram. Rute yang paling enak yang bisa kamu tempuh, menurut aku menggunakan kapal feri. Kamu bisa naik Feri dari pelabuhan Hunimua di Liang (Ambon) tujuan pelabuhan Waipirit (Pulau Seram). Dari pelabuhan kamu bisa naik bus tujuan kota Piru. Nah dari di sini, kamu tinggal naik bus tujuan daerah pesisir seperti Wael, Kotania, atau Taman Jaya. Nanti kamu bisa turun di pertigaan dekat kantor DPRD Seram Bagian Barat.
Kalau nggak mau ribet, dari kota Ambon kamu tinggal naik bus Ambon – Wael. Rutenya akan melewati jalur di atas.
 
View
Bicara soal view, memang tak diragukan lagi kalau Pulau Seram memang selalu menawarkan sejuta panorama indah, mulai dari gunung hingga pantai. Salah satunya ya ini, Gunung Malintang Piru. Tapi sebelumnya aku mau kasih pemahaman dulu buat kamu yang mungkin beranggapan bahwa lokasi ini susah, naik turun lembah atau trekking-nya susah. Eits jangan salah, Gunung Malintang Piru ini sebenarnya hanyalah sebuah bukit. Dan jalan raya membentang di atasnya. Kawasan Gunung Malintang Piru didominasi sembilan puluh persen pohon aksia. Enak banget dilihat. Adem di mata. Dari spot utamanya kamu bisa melihat luasnya laut seram dan beberapa pulau kecil seperti pulau Buntal dan pulau Osi di bawah sana. Bicara soal Osi mungkin kamu sudah tahu, kalau pulau ini memang salah satu primadona wisata di Seram Bagian Barat. Jadi kebayang kan gimana view-nya? Surga!
Untuk ke sini, bagusnya kamu datang pagi atau sore hari. Kalau sore kamu dapat sunset-nya. Kemarin waktu ke sini aku perginya siang makanya harus rela berpanas-panas ria.
Tips
Oh iya, karena polisi sering patroli dekat daerah sini, tips nih buat kamu yang menggunakan motor, selalu pastikan bawa surat kendaraan lengkap plus helm. Aku ke sini lintas menggunakan motor dari kota Ambon. Capek? Iya, tapi terbayar dengan pemandangan yang ditawarkan.
Biaya
Karena kemarin aku menggunakan motor. Biaya yang aku keluarin gak sampai 100 ribu. Bensin full tangki cuman 25 ribu. Ongkos feri 36 ribu. Jadinya total pulang balik (tanpa makan),  Rp. 97.000
Kalau kamu menggunakan bus Ambon – Wael misalnya kamu harus membayar sekitar 90 ribu (bisa lebih murah). Jadi pulang balik sekitar Rp. 180ribu.

Waktu tempuh.
Rincian waktu tempuh menggunakan motor. Ambon – Liang (Pelabuhan Hunimua) = 1 Jam |Liang – Pelabuhan Waipirit = 1 Jam 45 Menit | Pelabuhan Waipirit – Gunung Malintang Piru = 1 Jam 15 Menit. Totalnya kurang lebih 4 jam.
Menggunakan mobil kurang lebih waktu tempuhnya sama.
Menggunakan bus umum, mungkin kamu haru ekstra sabar. Bus Ambon – Wael misalnya, kamu harus naik dari jam 8 pagi di terminal Passo sebab rute ke sana hanya satu kali trip per hari. Sampainya bisa jam 2 atau jam 3 siang. Totalnya kurang lebih 7 jam. Itu bisa lebih cepat atau lambat tergantung kecepatan bus dan antrian kapal feri di pelabuhan.
More Info
Di lokasi ini dapat sinyal 3G. Jadi buat kamu yang ingin langsung nge-post gambar ke sosial media tidak perlu harus ke pusat kota. Bisa langsung update.
Bonus Jalan-Jalan Dusun Wael
Saat kemarin ke Taman Jaya menghadiri nikahan teman, aku nginap di rumah sepupu di Dusun Wael. Daerah ini merupakan salah satu sentra ikan di kecamatan Waesala. Jaraknya dekat banget dengan Gunung Tinggi Piru. Hanya melewati satu dusun, Kotania kalau nggak salah. Menggunakan motor hanya sekitar 13 Menit. Kalau ke sini, kamu harus coba ikannya. Enak-enak dan segar.

Tapi soal sinyal, kamu harus ke pantai untuk mendapatkan 3G dari Telkomsel. 4G belum ada. Bahkan di rumah sepupu aku, handphone harus digantung di tempat tinggi untuk mendapatkan jaringan.
Salah satu tempat instable yang patut kamu kunjungi di dusun Wael, yaitu tambak ikan. Tambak ikan ini milik pribadi warga setempat. Untuk mendapatkan akses ke sini, kamu izin dulu. Tapi hati-hati jembatannya kecil dan goyang-goyang. Beberapa pakunya bahkan sudah lepas. Makanya aku saranin, kamu hati-hati saat berpijak. Kalau enggak, ya resikonya jatuh ke laut. Pemandangannya enak, kamu bisa jadikan pulau Buntal sebagai latar foto kamu.
Tertarik?

Semoga pengalaman traveling aku kali ini bisa menginspirasi kamu buat jalan-jalan ke Gunung Malintang Piru dan Dusun Wael.
See you….

08 August 2017

#Travelling Gunung Tinggi (SBB): Surga Yang dititipkan Tuhan

Buat kamu yang suka gunung sekaligus laut, kamu harus mengunjungi tempat ini, Gunung Tinggi Seram Bagian Barat (SBB). Soalnya pemandangannya keren. Dan akses ke sini dari Ambon lumayan mulus. Jujur dari sebulan lalu pengin aku kunjungi, tapi kebentur waktu siaran, makanya ketunda.


Sebenarnya pas kemarin ke Gunung Tinggi itu, kebetulan. Soalnya memang rencananya aku mau ke Kailolo (di Pulau Haruku). Tapi kemudian batal soalnya teman di sana gak ada waktu menemani. Trus sekitar jam sembilan sepupu rekomendasi ke Gunung Tinggi. Dipikir-pikir daripada gak ke mana-mana ya kan? Aku langsung setuju aja.
Kita ke sana pake tiga motor. Barengan. Lintas Seram.

Akses
Untuk mengunjungi Gunung Tinggi dari Ambon kamu bisa ke Pelabuhan Feri Hunimua di Liang. Setelah sampai di pelabuhan berikutnya Waipirit Kairatu, kamu tinggal ngambil jalur kiri, menyusuri desa-desa. Nanti kamu akan tiba di ibukota de facto Seram Bagian Barat, Piru. Nah dari Piru kamu akan terus melewati daerah pegunungan, berupa tanjakan, turunan dan belokan. Sebab memang jalur ke sana, aspalnya membelah gunung. Aspalnya tergolong mulus, hanya saja ketika sampai di desa terakhir, Talaga Piru jalan agak rusak dikit. Eh ke sini juga kamu akan melewati gedung anggota dewan yang baru dibangun di puncak gunung. Spot foto di sini juga bagus, kamu bisa melihat laut lepas di bawah sana.
Nah setelah dari Talaga Piru, kamu akan melewati satu desa kecil sebelum jalur menanjak ke Gunung Tinggi. Sayangnya jalur aspalnya tidak begitu mulus (tapi tidak rusak), makanya buat yang pake motor bagusnya gunakan moge.

Waktu tempuh
Karena kemarin aku bareng teman-teman menggunakan motor, waktu tempuhnya kurang lebih 3 jam setengah. Rinciannya dari Ambon – Liang, 30 Menit. Liang (Pelabuhan Hunimua) – Kairatu (Pelabuhan Waipirit), ± 1 Jam 15 Menit. Kairatu – Gunung Tinggi, ± 1 Jam 15 Menit. Rata-rata kemarin kecepatan motor 70-80 Km/Jam.
Sebagai saran, untuk ke sini bagusnya kamu pake mobil. Biar lebih enjoy dan bisa menikmati pemandangan.

Biaya
Tidak mahal untuk ke sini, aku yang pakai motor uang yang keluar tidak sampai 100 ribu. Cuman isi bensin pas di Ambon fulltank 25 ribu. Bayar harga feri 38 ribu. Kebetulan kita bawa makanan, makanya gak jajan di jalan.
Untuk biaya feri penumpang, 18 ribu. Motor berisi penumpang di boncengan, 55ribu. Untuk mobil aku tidak tahu harganya.

View
Setelah sampai di Waipirit Kairatu, sebenarnya kamu sudah disuguhkan pemandangan indah, mulai dari desa-desa, dan pantai-pantai yang berada di pesisir. Apalagi ketika sudah sampai di pegunungan dekat kota piru, gilaaak, pemandangannya keren. Gunung di sini masih alami, belum ada penebangan. Ada salah satu tempat yang tidak jauh dari gerbang kota piru—dimana kita bisa melihat pegunungan dengan hutan homogen, sekilas mirip pohon pinus tapi gak tahu jenis pohonnya apa. Elok banget. Mirip pegunungan-pegunungan di Swiss.
Sebelum menemukan Gunung Tinggi, kamu juga akan melewati Kantor Dewan yang letaknya di puncak . Di sini ada spot foto bagus, berupa satu bukit yang dipenuhi rumput tanpa pohon.Ig-able tempatnya. Sayang kalau dilewatkan.
Nah untuk view Gunung Tinggi, jangan ditanya lagi. Dari bawah saja kita sudah disuguhkan pemandangan indah, apalagi di puncaknya? Kamu bisa melihat luasnya pulau Seram, laut, dan gunung. Uniknya Gunung Tinggi ini didominasi ilalang. Seolah-olah yang kamu lihat adalah hamparan karpet hijau yang luas. Subhanallah surga banget. Mungkin kamu bisa lihat lengkapnya di video.




Tempait ini cocok buat camping, foto prewed, dan menikmati kesunyian. Recommended! Tak berlebihan kalau aku menyebut tempat ini sebagai surga yang dititipkan Tuhan untuk Maluku.

Note: selama perjalanan
-Yang menggunakan motor hati-hati, banyak tikungan, tanjakan, turunan.
-Trus cek kendaraan kamu, apakah siap jalan? Soalnya kemaren rante motor aku lepas. Ngeriii!
-Trus tolong jangan buang sampah apa pun di sekitar Gunung Tinggi. Kemarin aku menemukan sampah plastik, dan botol air mineral di sini. Sayang tempat sesurga ini dikotori. Soalnya aku yakin 2 atau 3 tahun lagi tempat ini akan ramai.
-Bawa bekal yang cukup selama perjalanan, kalau bisa pergi bareng teman-temanmu yang lain.

03 July 2017

Pukul Manyapu Morella 2017

Sesuai judul di atas aku mau post sedikit tentang atraksi budaya Pukul Manyapu yang diselenggarakan desa Morella di Kabupaten Maluku Tengah kemarin. Untuk kamu ketahui, atraksi ini disebut juga Baku Pukul Manyapu atau Pukul Sapu Lidi—kemungkinan sebutan yang terakhir ini sudah di Indonesia-kan. Baku Pukul Manyapu sendiri merupakan atraksi yang dilakukan antara pemuda-pemuda asli Morella dengan dibagi dalam dua kubu yang akan saling memukul menggunakan dua batang lidi. Perayaan ini dilaksanakan setiap tanggal 7 Syawal dalam kalender Islam. Spesialnya di Maluku atraksi kece ini hanya ada di Negeri Mamala dan Morella. Dua desa ini bertetangga. Untuk penjelasan lengkapnya kamu bisa lihat di wikipedia.

Sudah beberapa tahun belakangan memang aku termasuk yang rajin menonton atraksi ini. Dibanding Mamala, aku lebih senang menyaksikan acara yang diselenggarakan Morella.  Soalnya gaungnya lebih besar dan sudah masuk agenda tahunan dinas pariwisata Maluku. Lagipula memang teman siaran aku juga orang asli Morella, makanya kemarin tuh kita nonton sambil kerja juga. Meliput buat bahan siaran. 


Tapi harus diakui tahun ini acaranya kurang ramai. Soalnya bertepatan dengan hari minggu dimana sebagian orang memang memilih untuk berwisata pantai di hari terakhir libur sebelum masuk kerja. Kalau tahun lalu jam tiga sore aja masyarakat udah full dan sesak di lokasi, bahkan tidak mendapat tempat parkir, tapi kemarin jam lima sore pun masih dapat tempat parkir. Terlepas dari itu, acara ini termasuk megah dan sukses.


Fyi, acara ini sebenarnya dibagi menjadi dua hari dalam rangkaian Pesta Budaya Negeri Morella. Pertama hari sabtu (1 Juli 2017) ada Pengambilan obor Kapitan Telukabessy, Pameran Benda Bersejarah, Hadrat, Pentas Seni Komunitas dan Teaterikal Perang Kapahaha. Sementara hari Minggu (2 Juli 2017) ada Panggayong Manggurebe, Karnaval Bidaya, Bambu Gila, Cakalele, Atraksi Pukul Manyapu, dan Panas Pela.


Nah berikut foto-foto yang saya dapatkan dalam acara puncaknya kemarin.


Para pemain atraksi Pukul Manyapu diantar dengan musik tradisional menuju “Rumah Tua” sebelum  aksi di lapangan.


Para Pemain atraksi Pukul Manyapu di “Rumah Tua”


Salah satu pemain Pukul Manyapu.


Lidi yang digunakan untuk atraksi Pukul Manyapu.



Pementasan atraksi Pukul Manyapu di lapangan.


Kalo terakhir ini, adalah foto bareng penari Cakalele di “Rumah Tua”


Dari penyelenggaraan tahun ini, sebenarnya aku ada saran sih buat penyelenggara. Kalau bisa tahun-tahun berikutnya acara puncak Pukul Manyapu diadakan agak tempo dikit—ya jam lima atau beberapa menit setelah Sholat Ashar. Soalnya beberapa tahun belakangan acaranya selesai mau dekat Maghrib. Akhirnya banyak pengunjung (wisatawan/turis mancanegara) yang pengin foto momen selesai atraksi—pemain yang penuh darah itu, waktunya tidak ada karena keburu malam. Padahal acara ini salah satu tujuannya untuk menarik wisatawan kan? Karena menurut aku, semakin banyak pengunjung yang mendapatkan foto momen darah-darah tadi, semakin banyak juga kesempatan atraksi Pukul Manyapu ini terpublikasi. Di zaman millennial ini, sosial media adalah jalan satu-satunya publikasi paling mudah. Bayangkan kalau 100 orang dengan 100 follower mem-posting acara ini, maka secara tidak langsung acara atraksi sudah bisa menjangkau kira-kira 10.000 orang di luar sana. Ya kan?


Trus, kalau bisa di pintu masuk atau dekat masjid Morella dipasang jadwal acara secara runut—mungkin dibikin kayak baliho biar pengunjung bisa tahu, jam 2 acara apa, jam 3 acara apa, jam 5 acaranya apa. Kalau kemarin kan kita cuman nebak-nebak. Percayalah, sebuah festival akan makin masyhur kalau pengunjung puas. Sebab dengan kepuasan tersebut, semakin banyak cerita-cerita yang akan disampaikan ke orang lain. Saya punya pengalaman mengunjungi festival di Jakarta. Di sana, di pintu masuk dipasang jadwal acara, hal ini memudahkan pengunjung untuk menentukan acara mana yang ingin disaksikan. 


Oke segitu aja cerita aku. Jadi buat kamu yang ingin menonton atraksi Pukul Manyapu, silakan datang tahun depan. Rugi kalau tidak menyaksikan, sebab acara ini gratis (tak ada tiket masuk), full festival, ada dapur umum (makan gratis), masyarakat Morella ramah dan welcome. Dan yang paling penting,bisa silaturahmi dengan banyak orang.


See you at next post....