Showing posts with label Traveling. Show all posts
Showing posts with label Traveling. Show all posts

04 July 2021

Gunung Tinggi Teletubbies Seram Bagian Barat

Hai ketemu lagi di blog aku. Kali ini aku ngajak kamu ke Gunung Tinggi, biasanya disebut juga Bukit (Gunung) Teletubbies, karena sekilas ilalang yang tumbuh di gunung ini mirip dengan setting kartun Teletubbies. Lokasinya berada di Pulau Seram—Kabupaten Seram Bagian Barat.

Selengkapnya bisa tonton lewat video di bawah ini:



Follow My Social Media
- Twitter
- Instagram
- Wattpad
- YouTube
- Tiktok
- Blog

09 April 2019

#Traveling Pulau Osi

Kali ini aku mau nulis soal tempat wisata Pulau Osi. Mungkin kamu yang tinggal di Maluku terkhusus Ambon, sudah familiar dengan tempat wisata ini, tapi buat kamu yang belum, simak ya. Sekalian jadi referensi liburan kamu.

Pulau Osi

Introduce & reason
Sebenarnya aku emang gak sengaja ke Pulau Osi. Ceritanya emang akhir Desember tahun kemarin, aku bareng kakak aku ke Kabupaten Seram Bagian Barat, mau ngurusin hajinya ibu. Karena di kabupaten lumayan lama, makanya sekalian jalan-jalan.
Kebetulan juga, di Pulau Osi ada rumah keluarga dekat. Nah sekalian silaturahmi.
Lokasi
Lokasi Pulau Osi sendiri terletak di Kabupaten Seram Bagian Barat. Jauhnya 21 KM dari ibu kota Kabupaten Piru.

Posisi Pulau Osi dari Google Maps
Pulau ini sendiri terpisah dari pulau Seram, dan dihubungkan dengan jembatan kayu panjang—yang dikelilingi mangrove.
Jembatan Pulau Osi

Akses
Untuk menuju lokasi ini dari pusat kota kabupaten Piru, hanya bisa dijangkau dengan jalur darat. Kamu akan melewati beberapa bukit untuk menjangkau Pulau Osi. Jalannya pun sudah aspal rapi.
View
Pulau Osi sendiri menawarkan pesona resort-nya. Di sini terdapat beberapa resort yang disewakan kepada pengunjung. Meski tak se-lux resort lain—Ora misalnya, namun keberadaan resort tak kalah nyaman. Resort ini juga berada dekat tambak ikan, jadi tak heran, menu yang ditawarkan tempat ini kebanyakan sea food.


Indigo Resort & Restaurant di Pulau Osi

Salah satu jembatan di Resort Indigo

Satu yang menjadi spot favorit foto adalah Jembatannya. Jembatan Pulai lumayan panjang, karena menghubungkan antara daratan Pulau Seram dan Pulau Osi.

Jembatan Pulau Osi

Saran
Kalau ke sini dengan menggunakan mobil, kamu bisa menitipkan mobil diparkiran khusus sebelum masuk jembatan. Bayarannya per malam. Namun jika membawa motor, kamu bisa langsung masuk ke area wisata.
Karena jembatannya panjang, buat kamu yang bawa mobil (tak bisa masuk), dan yang gak bawa kendaraan, ada baiknya kamu menyewa ojek ke lokasi. Karena dipastikan kamu capek kalau jalan kaki.
Biaya & Waktu Tempuh
Untuk masuk ke lokasi Pulau Osi kamu hanya membayar lima ribu. Waktu tempuhnya dari pusat kota Kabupaten Seram bagian Barat, Piru hanya 30 menit menggunakan kendaraan roda dua. Untuk harga resort, setahu aku ketika akhir desember masih harga 350ribu per malam. Mungkin sudah berubah sekarang. Tiket pesawat aja naik ya kan?
More Info
Buat kamu yang doyan ikan, kamu bisa bawa pulang oleh-okeh ikan teri. Ikan teri di sini lumayan karena merupakan sentranya, dan dijual oleh penduduk setempat.

Bagaimana? Berencana liburan ke sini?

22 December 2018

#Traveling Bromo

Setelah Oktober dan November rehat posting, akhirnya Desember ini aku bisa nulis lagi di blog. Malah ini tulisan kedua setelah, promo Maverick
.
Bromo

Kali ini aku mau nulis perjalanan aku Agustus kemarin pas ke Bromo. Sebenarnya pertengahan tahun ini (Juni Juli) aku udah bikin list traveling, antara ke Bromo atau Lombok. Namun setelah dipertimbangkan akhirnya aku memilih Bromo. Dan tahu gak, tanggal 5 Agustus ketika aku di Malang itu, terjadi gempa besar di Lombok. Dan gempanya terasa hingga ke Batu Malang. Saat mendengar kabar gempa itu, aku merasa beruntung, karena batal mengambil Lombok sebagai destinasi traveling.
Back to topic ya temans,
Aku ke Bromo kemarin menggunakan jasa travel yang membuka open trip. Aku menemukan jasa travel lewat instagram Abimanyu Tour. Aku sendiri mengambil paket midnight. Harganya 350.000/pax. Jadi sebelum Agustus aku udah chat-chat-an dengan adminnya. Dan aku dikirim jadwal perjalanan. Jadwal perjalanan tour Bromo, bisa kamu lihat di gambar.

Jadwal Tour Travel

Sesuai jadwal aku dijemput driver kira-kira pukul 23.00. Aku diberi perlengkapan kupluk dan roti buat sarapan. Dan hari itu aku hanya mengenakan sweter, karena memang benar-benar lupa bawa jaket dari Ambon. Lantaran ini tour open trip, maka driver harus menjemput beberapa orang lain. Tujuan pertama kita menjemput tiga mahasiswa bandung—dua cewek, satu cowok. Dan berikutnya menuju Hotel Haris menjemput Ibu dan anak asal Manodo. Fyi, anak Manado ini bawa tas Gucci loh. Luar biasa ya kan?
Kira-kira jam 03.00 kita sampai ke transit point. Di tempat ini kita rehat sebentar, dan berganti kendaraan dengan jeep—tentu berganti sopir juga. Sumpah di tempat ini dinginnya mulai nusuk kulit. Untungnya ada api unggun. Jadi para pengunjung bisa menghangatkan badan. Di tempat ini suasana kemudian menjadi riuh, lantaran ada bule asal Spanyol yang charming. Dia ramah ke semua orang. Dia ke Indonesia buat liburan, bareng pacarnya yang orang Indonesia. Beberapa kali pacarnya harus jadi penerjemah buat orang-orang yang bertanya.

Istirahat beberapa menit, kita akhirnya berganti jeep. Rute yang kita lewati cukup lama, karena malam jujur aku gak bisa lihat jelas medan yang dilewati. Pokoknya intinya kita melewati turunan, tanjakan dan belokan (dan setelah pulang aku baru tahu rute yang kita lewati itu ngeri-ngeri sedap—salah manuver sedikit saja, kita bisa terperosok ke jurang).
Kita sampai di lokasi Sunrise View Point Bromo, kira-kira jam 4 pagi. Ya demi melihat matahari terbit. Di sini astaga, dinginnya lebih amit-amit dari sebelumnya. Aku bahkan harus menyewa jaket. Lucunya di sini aku ketiduran, dan kebangun pas semua orang udah teriak sunrise dan pada berdiri jepret. Dan aku baru sadar, hanya aku doang yang masih duduk. Pokoknya kacau pas di sini. Di tempat ini pula kita bisa melihat gunung Semeru yang menjulang.

Sunrive View Point Bromo
Gunung Semeru
 
Jam 6 setelah ngambil beberapa foto, kita kembali ke jeep. Rute berikutnya benar-benar ke Bromo. Kita akan menemukan Gunung Batok duluan sebelum ke Bromo. Nah di sini kamu bisa menaiki kuda untuk bisa menghemat waktu menuju puncak Bromo. Aku sendiri pas di puncak Bromo gak terlalu lama, soalnya bau belerangnya menyengat. Di sini juga dijual edelweis hasil budidaya petani dan oleh-oleh t-shirt bromo. Aku sempat beli untuk teman-teman di Ambon.

Gunung Batok

Puncak Bromo

Kemarin pas turun dari puncak ada satu cewek yang kemudian pingsan tiba-tiba, mungkin karena dehidrasi. Dan akibatnya jalan ke puncak jadi macet.
Jeep berikutnya membawa kami ke pasir berbisik. Di Pasir Berbisik teman-teman open trip mulai mencair, saling ngobrol dan saling foto.

Pasir Berbisik

Pasir Berbisik (2)

Tujuan tour terakhir kita adalah bukit Savana atau Bukit Teletubbies. Di sini ada tempat makan yang disediain, ada juga penyewaan kuda. Dan jujur sampai ke sini, capek mulai nyerang.

Padang Savana Bromo
Bukit Teletubbies Bromo

Bukit Teletubbies Bromo (2)
Kuda Sewaan Bukit Teletubbies
Di Bukit Savana ini, tampak beberapa cewek (kayaknya sih anak SMA) yang uuh full make up. Ada juga yang sibuk mengenakan kain tradisional kayak kain khas Nusa Tenggara buat foto. Dan lihat mereka mengenakan kain tersebut, sumpah ribet benar! Bahkan hanya untuk mendapatkan satu foto yang diinginakan, harus muter kain ke kiri ke kanan. Ngalangin angin. Harus pindah posisi. Aku yang lihatnya aja pusing, apalagi bayangin gunain kain itu.

Kita balik ke transit point kira-kira jam 12 siang. Bertukar mobil dan dibawa ke salah satu desa dekat Tengger untuk makan siang. Setelah makan siang, kita di-drop ke hotel masing-masing. Aku jadi orang yang paling akhir diantar.

Desa Tengger -Negri di Atas Awan

Dan perjalanan kali ini lumayan bikin puas. Penasaran akan keindahan Bromo terbayar. Mudah-mudahan suatu saat bisa kesampaian ke Semeru, Amin!

16 August 2018

#Traveling Bandung

Sebenarnya dari awal tahun lalu pengin banget nulis pengalaman dolan ke Bandung. Tapi kayaknya sekarang mood untuk update blog berkurang.

Kawah Putih Ciwidey - Bandung, Jawa Barat

Experience
Nah akhir tahun 2017 lalu pas setelah natal aku memutuskan untuk liburan. Pilihanku jatuh ke Bandung. Kenapa Bandung? Karena aku penasaran dengan alun-alunnya yang katanya bagus, trus kepengin juga ke Kawah Putih Ciwidey.
Karena penerbangan Ambon – Bandung agak mahal pas akhir tahun, aku ngambil penerbangan Ambon – Jakarta. Lagian bisa stay juga di rumah kakakku di sana—alasannya sih biar hemat. Makanya akhir tahun lalu alhamdulillah bisa liburan 3 hari Bandung, 2 hari Jakarta.
Tempat-tempat kece di Bandung Alhamdulillah dekat-dekat makanya gak kelelahan pas 3 hari itu. Semuanya ngandalin gojek atau grab. Tapi pas kemarin ke Bandung yang aku lihat driver gojek/grab itu gak menggunakan seragam. Kata si driver-nya masih rawan di sana, padahal di aplikasi banyak banget driver yang ngetem. Contohnya pas subuh-subuh mau balik Jakarta, aku pesan gojek ke stasiun kereta, yang ngetem dekat hotel banyak. Aku gak tahu kalo sekarang udah pada berani pake seragam belom?
Selama beberapa hari di sana menyenangkan sih. Rame banget tuh alun-alunnya, kayaknya sampai pagi dah. Barangkali yang bikin alun-alun Bandung rame itu, karena konsepnya kayak one stop living—ada masjid, trus di basement ada tempat makan. Makanya lengkap.
Nah berikut beberapa tempat yang aku kunjungi di Bandung.

Alun-Alun Bandung (berhadapan dengan Grand Mosque of Bandung)
Jalan Braga Bandung

Lapangan Gasibu Bandung

Gedung Sate

Jalan Asia Afrika - Bandung

Yang gak kesampaian cuman ke Lembang. Mungkin kalo gak buru-buru pulang, aku udah ke sana kali yak.

Kawah Putih Ciwidey
Di Bandung tempat yang paling pengin aku kunjungi ya Kawah Putih ini. Kawah Putih ini berada di kawasan Ciwidey. Ke Ciwidey dari pusat kota memakan waktu kurang lebih dua jam, dan jalannya kelok-kelok karena melewati pedesaan. Kawah Putih ini sendiri berupa danau yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha. Warnanya putih, terkadang bisa hijau dan khas bau belerang. Aku agak kaget pas ke sini, ternyata daerahnya dingin bahkan dari tempat parkir sebelum naik kendaraan mirip oplet menuju puncak kawah.
Kawah Putih Ciwidey

Jembatan Kawah Putih Ciwidey

Di sini musik khas Sunda juga didengarkan lewat speaker, makanya pengunjung merasa tenang. Dan beberapa penjelasan juga di-sounding lewat speaker. Di tengah kawah ada jembatan. Naik jembatan ini bayar lagi kalau gak salah. Lokasi dan Jembatan di sini sering jadi lokasi syuting film layar lebar. Maniak film Indonesia pasti tahu.
Kawasan ini makin siang makin ramai biasanya. Tempat buat foto juga banyak. Bagi kamu yang tidak bawa kamera, tenang ada jasa foto di sini, kamu tinggal pilih mau hard copy atau soft copy-nya. Bisa juga kedua-duanya.

Saran.

Kalau kamu ingin ke Ciwidey, mending langsung ngambil paket full agar bisa singgah ke Ranca Upas juga. Kemarin aku gak sempat ke Ranca Upas karena keburu jumataan juga sih? Makanya rasanya rugi. Kata temen di Ciwidey banyak tempat wisatanya, termasuk Situ Patenggang.

This is my short story about Bandung, and what’s your story

14 April 2018

#Traveling Jogja Istimewa

Dari bulan lalu sebenarnya pengin banget cerita pengalaman ke Jogja akhir tahun lalu. Tapi sibuk mulu dengan kehidupan pribadi dan kerjaan kantor—yang kayaknya makin hari makin banyak. Padahal sebetulnya aku gak sibuk-sibuk amat.

Experience

Nah kemarin tuh ke Jogja kalo gak salah seminggu aja. Pas awal Desember 2017. Itu bareng teman-teman tapi beda penerbangan. Ternyata wisata di Jogja dekat-dekat, atau mungkin karena kotanya kecil kali yak? Seingatku waktu hari ke dua itu, aku jalan kaki lepas subuh dari Tugu Jogja sampai Kraton saking pengin nikmatin kota Jogja. Pas pulangnya ngandalin Gojek dan capeknya luar biasa. Satu hal lagi, Jogja tuh kayaknya aman, pernah aku pulangnya malam banget dari hotel teman tapi jalanannya masih rame. Trus orang-orangnya tertib.
Yang paling mengesankan selama di jogja adalah Malioboronya kalo malam. Ramenya gila. Bahkan bisa sampai di Tugu Jogja. Ini beberapa foto hasil tangkapan kameraku selama di Jogja.

Malioboro

Tugu Jogja

Benteng Vredeburg

Selebihnya tentang Jogja bisa kamu lihat di Instagram aku

Prambanan, Ratu Bokoh & Borobudur.

Candi Prambanan
Berikutnya yang paling mengesankan adalah mengunjungi tiga candi besar—Prambanan, Ratu Bokoh & Borobudur—candi yang hanya pertama kali aku baca hanya lewat buku sejarah. Tapi buat kamu yang pernah membaca buku KH. Fahmi Basya pasti tahu hubungan antara Ratu Bokoh – Borobudur dengan dengan Kisah Nabi Sulaiman – Ratu Balqis.
Pertama kali mengunjungi Prambanan, aku baru tahu kalo kompleksnya sebagian udah masuk Jawa Tengah. Aku dikasih tahu supir Grab. Kalo ke Prambanan kamu bisa menggunakan tiket terusan untuk mengunjungi Candi Ratu Bokoh.

 
Candi Ratu Bokoh
Candi Ratu Bokoh berada di puncak gunung. Kawasannya gak terlalu besar. Kemarin pas ke sini, banyak sekali klub-klub fotogrofi yang lagi hunting. Enaknya, di sini bisa tiduran karena rerumputan bisa dijadikan kasur.
Candi Borobudur
Berbeda dengan Prambanan dan Ratu Bokoh yang deketan jaraknya, buat kamu yang ingin mengunjungi Borobudur harus siap kocek lebih. Soalnya Borobudur sudah berada di Jawa Tengah. Waktu tempuhnya sejam dengan mobil dari pusat kota Jogja. Aku kemarin bolak-balik pake Grab hampir 300ribu. Borobudur kompleksnya luas. Naik pake tanjakan juga. Siap-siap napas kalo naik tangganya. Ke sini aku sarananin pagi. Soalnya kalo udah jam 9 ke atas panasnya pool. Yakin deh, satu jam di Borobudur bikin kamu dehidrasi.
Yang paling lucu itu pas foto. Soalnya rame banget. Makanya waktu mau foto harus ngusir orang dulu: “Mas, Mba ngilang dulu ya, soalnya mau foto,”. Satu hal lagi kalo ke sini jangan macam-macam, karena ada petugasnya loh di setiap sudut. Dan dilarang bawa drone.

Saran.
Kalau kamu ke Jogja, mungkin sekalian kamu kunjungi Borobudur. Soalnya mubazir kalo kamu gak ke Candi kebanggan Indonesia ini. Pertimbangannnya ya, biar hemat biaya traveling.

Itu ceritaku saat mengunjungi Jogja, mana ceritamu?

01 March 2018

Semacam (Mini) #Traveling: Gunung Kayu Satu

Sebenarnya ke Gunung Kayu Satu ini gak sengaja. Awalnya sepupu ngajakin ke sana, karena penasaran dengan pembukaan jalan yang dilakukan kaki Gunung Kayu Satu. Maka di hari sabtu lalu kemarin aku bareng sepupu hiking berdua setelah subuh.
Tahukah kamu? Awalnya Gunung Kayu Satu ini bernama Gunung Kayu Tiga. Penamaan ini karena dulu di puncaknya berdiri tiga pohon besar yang sejajar. Namun saat ini kayu-nya tinggal satu. Bahkan tinggal batangnya saja. Dua lainnya sudah tumbang dimakan usia.
Lokasi

Fyi temans, lokasi Gunung Kayu Satu ini dekat banget dengan rumah aku. Setiap hari aku melihatnya. Tapi seumur-umur baru sekarang aku naik nih gunung. Jadi buat kamu yang bertanya-tanya di mana lokasi Gunung ini sebenarnya? Lokasinya di Desa Batu Merah (IAIN Ambon), Kecamatan Sirimau, Ambon, Maluku.
Akses
Untuk ke Gunung Kayu Satu dari pusat kota Ambon, kamu tinggal bergerak ke arah Timur desa Batu Merah ke kawasan IAIN Ambon. Kamu bisa naik angkot tujuan IAIN.


View
Sebenarnya Gunung ini tidak terlalu tinggi. Untuk ketinggian aku gak tahu pasti sih berapa. Tapi mayoritas Gunung ini memiliki pohon-pohon yang tidak terlalu besar. Masih ada ilalang-ilalangnya. Jalur ke puncak Gunung ini sudah kebentuk. Mungkin karena sering dijadikan spot camping. Kamu bisa lewat jalur kiri untuk mencapai puncaknya.
Malam minggu menjadi hari paling rame di puncak Kayu Satu, karena biasanya anak-anak pecinta alam sering menghabiskan waktu di sini. Mereka naik ke Gunung ketika sabtu sore. Kalo malam pergantian tahun baru lebih rame lagi.
View dari atas kece badai. Kamu bisa melihat kota Ambon sepenuhnya, birunya teluk Ambon, dan Jembatan Merah Putih secara padu. Jika selama ini kita tahu Gunung Salahutu—Gunung tertinggi di Pulau Ambon menjadi spot favorit melihat Kota Ambon seluruhnya, maka Gunung Kayu Satu juga menawarkan hal demikian. Bedanya kalo Gunung Salahutu, jalur trekking-nya susah dan sering jadi langganan pendaki profesional, sementara Gunung Kayu Satu orang amatir pun bisa naik karena sudah ada jalur trekking-nya. Dan satu lagi, capeknya gak secapek naik Salahutu.
Eh di sini pertengahan jalur pendakian sudah disediakan air leding, jadi kamu yang cering cepat haus, tak perlu khawatir.
Saran
Ini saran yang sering kita dengar dari para pendaki, tolong jangan nyampah di jalur trekking, maupun puncaknya. Soalnya kemarin waktu ke sini, aku mendapati banyak sampah plastik. Dari kantong plastik, makanan ringan, botol mineral. Makanya kemarin sempat jengkel, Gunung lumayan bagus ini dirusakin oleh orang-orang yang gak cinta lingkungan.
Biaya & Waktu Tempuh
Untuk menjangkau Gunung Kayu Satu dari kota Ambon cuman sekali naik kendaraan umum. Bayarnya gak sampe Rp. 5.000. yang punya kendaraan malah lebih enak lagi. Waktu tempuhnya dari pusat kota hanya 30 menit kendaraan umum. Motor dan Mobil pribadi bisa 15 menit.
 
More Info
Di puncak Gunung sudah ada sinyal. Sayangnya untuk meng-update atau terkoneksi dengan internet hanya bisa kamu lakukan ketika turun kembali atau berada di kaki gunung.


Buat kamu yang berada di Kota Ambon, Gunung Kayu Satu seharusnya bisa jadi agenda menarik untuk rekreasi.

17 February 2018

#Traveling Gunung Malintang Piru


Lama rasanya gak posting soal traveling. Padahal kemarin-kemarin sempat ke Jogja, Bandung dan Jakarta. Tapi kali ini aku gak nge-post traveling ke tiga kota besar yang menurut aku menguras kantong itu (nangis di pojokan).  Yang mau aku post adalah salah satu tempat yang menurut aku lumayan enak jadi tujuan traveler, Gunung Malintang Piru.
Sebenarnya awalnya ke sini hanya untuk menghadiri nikahan teman di daerah Taman Jaya. Kebetulan karena akses ke Taman Jaya melewati gunung ini makanya sekalian dolan.
Lokasi

Gunung Malintang Piru berada di Pulau Seram. Ya sesuai namanya gunung ini memang dekat daerah Piru, ibu kota dari Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku. Gunung ini berada tak jauh daru Gedung DPRD Seram Bagian Barat dan juga Gedung Siwalima.
 

Akses
Untuk mencapai daerah ini dari kota Ambon, kamu harus menyebrang ke Pulau Seram. Rute yang paling enak yang bisa kamu tempuh, menurut aku menggunakan kapal feri. Kamu bisa naik Feri dari pelabuhan Hunimua di Liang (Ambon) tujuan pelabuhan Waipirit (Pulau Seram). Dari pelabuhan kamu bisa naik bus tujuan kota Piru. Nah dari di sini, kamu tinggal naik bus tujuan daerah pesisir seperti Wael, Kotania, atau Taman Jaya. Nanti kamu bisa turun di pertigaan dekat kantor DPRD Seram Bagian Barat.
Kalau nggak mau ribet, dari kota Ambon kamu tinggal naik bus Ambon – Wael. Rutenya akan melewati jalur di atas.
 
View
Bicara soal view, memang tak diragukan lagi kalau Pulau Seram memang selalu menawarkan sejuta panorama indah, mulai dari gunung hingga pantai. Salah satunya ya ini, Gunung Malintang Piru. Tapi sebelumnya aku mau kasih pemahaman dulu buat kamu yang mungkin beranggapan bahwa lokasi ini susah, naik turun lembah atau trekking-nya susah. Eits jangan salah, Gunung Malintang Piru ini sebenarnya hanyalah sebuah bukit. Dan jalan raya membentang di atasnya. Kawasan Gunung Malintang Piru didominasi sembilan puluh persen pohon aksia. Enak banget dilihat. Adem di mata. Dari spot utamanya kamu bisa melihat luasnya laut seram dan beberapa pulau kecil seperti pulau Buntal dan pulau Osi di bawah sana. Bicara soal Osi mungkin kamu sudah tahu, kalau pulau ini memang salah satu primadona wisata di Seram Bagian Barat. Jadi kebayang kan gimana view-nya? Surga!
Untuk ke sini, bagusnya kamu datang pagi atau sore hari. Kalau sore kamu dapat sunset-nya. Kemarin waktu ke sini aku perginya siang makanya harus rela berpanas-panas ria.
Tips
Oh iya, karena polisi sering patroli dekat daerah sini, tips nih buat kamu yang menggunakan motor, selalu pastikan bawa surat kendaraan lengkap plus helm. Aku ke sini lintas menggunakan motor dari kota Ambon. Capek? Iya, tapi terbayar dengan pemandangan yang ditawarkan.
Biaya
Karena kemarin aku menggunakan motor. Biaya yang aku keluarin gak sampai 100 ribu. Bensin full tangki cuman 25 ribu. Ongkos feri 36 ribu. Jadinya total pulang balik (tanpa makan),  Rp. 97.000
Kalau kamu menggunakan bus Ambon – Wael misalnya kamu harus membayar sekitar 90 ribu (bisa lebih murah). Jadi pulang balik sekitar Rp. 180ribu.

Waktu tempuh.
Rincian waktu tempuh menggunakan motor. Ambon – Liang (Pelabuhan Hunimua) = 1 Jam |Liang – Pelabuhan Waipirit = 1 Jam 45 Menit | Pelabuhan Waipirit – Gunung Malintang Piru = 1 Jam 15 Menit. Totalnya kurang lebih 4 jam.
Menggunakan mobil kurang lebih waktu tempuhnya sama.
Menggunakan bus umum, mungkin kamu haru ekstra sabar. Bus Ambon – Wael misalnya, kamu harus naik dari jam 8 pagi di terminal Passo sebab rute ke sana hanya satu kali trip per hari. Sampainya bisa jam 2 atau jam 3 siang. Totalnya kurang lebih 7 jam. Itu bisa lebih cepat atau lambat tergantung kecepatan bus dan antrian kapal feri di pelabuhan.
More Info
Di lokasi ini dapat sinyal 3G. Jadi buat kamu yang ingin langsung nge-post gambar ke sosial media tidak perlu harus ke pusat kota. Bisa langsung update.
Bonus Jalan-Jalan Dusun Wael
Saat kemarin ke Taman Jaya menghadiri nikahan teman, aku nginap di rumah sepupu di Dusun Wael. Daerah ini merupakan salah satu sentra ikan di kecamatan Waesala. Jaraknya dekat banget dengan Gunung Tinggi Piru. Hanya melewati satu dusun, Kotania kalau nggak salah. Menggunakan motor hanya sekitar 13 Menit. Kalau ke sini, kamu harus coba ikannya. Enak-enak dan segar.

Tapi soal sinyal, kamu harus ke pantai untuk mendapatkan 3G dari Telkomsel. 4G belum ada. Bahkan di rumah sepupu aku, handphone harus digantung di tempat tinggi untuk mendapatkan jaringan.
Salah satu tempat instable yang patut kamu kunjungi di dusun Wael, yaitu tambak ikan. Tambak ikan ini milik pribadi warga setempat. Untuk mendapatkan akses ke sini, kamu izin dulu. Tapi hati-hati jembatannya kecil dan goyang-goyang. Beberapa pakunya bahkan sudah lepas. Makanya aku saranin, kamu hati-hati saat berpijak. Kalau enggak, ya resikonya jatuh ke laut. Pemandangannya enak, kamu bisa jadikan pulau Buntal sebagai latar foto kamu.
Tertarik?

Semoga pengalaman traveling aku kali ini bisa menginspirasi kamu buat jalan-jalan ke Gunung Malintang Piru dan Dusun Wael.
See you….